Shared Space

eksperimen jalan raya tanpa rambu lalu lintas yang justru lebih aman

Shared Space
I

Pernahkah kita berhenti di lampu merah pada jam dua pagi? Jalanan kosong melompong. Tidak ada kendaraan lain dari arah mana pun. Tapi kita tetap menginjak rem dan menunggu dalam diam. Kenapa kita melakukannya? Jawabannya sederhana, karena ada lampu yang menyuruh kita berhenti.

Mari kita bayangkan sesuatu yang sedikit radikal. Bagaimana kalau besok pagi, pemerintah mencabut semua lampu merah di kota? Semua rambu stop dibuang. Garis pemisah jalan dihapus bersih. Insting pertama kita pasti menebak jalanan akan berubah menjadi arena bumper car yang berdarah. Pasti kacau balau, bukan? Tapi mari kita tahan asumsi itu sebentar. Karena ada sebuah eksperimen gila di dunia nyata yang membuktikan hal sebaliknya. Ketika semua aturan lalu lintas dihilangkan, jalanan justru berubah menjadi jauh lebih aman.

II

Selama puluhan tahun, para insinyur tata kota punya satu kepercayaan mutlak. Untuk membuat jalan yang aman, kita butuh lebih banyak aturan. Pasang rambu peringatan di setiap sudut. Buat pagar pembatas setinggi mungkin. Nyalakan lampu lalu lintas yang terang benderang. Logikanya masuk akal. Manusia itu ceroboh dan gampang terdistraksi. Jadi, kita harus dipaksa patuh oleh sistem.

Namun, seorang ahli lalu lintas asal Belanda bernama Hans Monderman merasa ada yang salah dengan cara berpikir ini. Monderman mengamati perilaku kita di jalan dan menyadari satu hal yang menarik tentang psikologi manusia. Semakin banyak aturan di jalan, semakin kita berhenti berpikir. Kita menyerahkan tanggung jawab keselamatan kita pada lampu warna-warni dan tiang besi. Kita berhenti melihat keadaan sekitar karena merasa sistem sudah mengatur segalanya.

Monderman lalu mengajukan sebuah ide yang membuat banyak pejabat kota mengernyitkan dahi. Bagaimana jika kita cabut semua aturan buatan itu? Bagaimana jika kita kembalikan tanggung jawab keselamatan langsung kepada manusianya?

III

Untuk melihat ide gila ini bekerja, mari kita jalan-jalan ke sebuah kota kecil di Belanda bernama Drachten. Di awal tahun 2000-an, ada sebuah persimpangan tersibuk di kota ini. Tempat itu melayani puluhan ribu mobil, bus, dan sepeda setiap harinya. Kemacetan adalah pemandangan biasa. Angka kecelakaan di sana juga cukup mengkhawatirkan.

Lalu, Monderman menerapkan eksperimennya di persimpangan tersebut. Dia membongkar semua lampu lalu lintas. Dia mencabut semua rambu peringatan. Tidak ada lagi trotoar tinggi yang memisahkan pejalan kaki dan mobil. Semuanya dilebur menjadi satu ruang terbuka yang rata.

Bayangkan teman-teman berada di sana. Sebuah mobil melaju dari arah kanan. Rombongan sepeda menyeberang dari kiri. Pejalan kaki dengan santai melangkah di tengah-tengah. Semuanya bergerak bersamaan. Tidak ada lampu merah yang memberi tahu siapa yang harus jalan duluan atau siapa yang harus berhenti. Kekacauan total ada di depan mata. Bukankah tabrakan beruntun tinggal menunggu waktu? Bagaimana mungkin otak manusia bisa memproses tingkat bahaya sebesar itu tanpa panduan sama sekali?

IV

Di sinilah ilmu psikologi menjawab ketakutan kita. Jawabannya terletak pada konsep Shared Space atau ruang berbagi. Eksperimen di Drachten ternyata tidak berujung pada bencana. Sebaliknya, angka kecelakaan fatal turun secara drastis hingga menyentuh angka nol. Kemacetan yang biasanya mengular tiba-tiba lenyap begitu saja. Kok bisa?

Ada sebuah fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah Risk Compensation. Singkatnya, ketika manusia merasa sangat aman, kita cenderung mengambil risiko yang lebih besar. Saat kita melihat lampu hijau, kita akan menginjak gas dalam-dalam tanpa menengok kiri-kanan. Pikiran bawah sadar kita berkata, "Saya punya hak jalan, kalau ada yang menabrak, itu murni salah mereka."

Tapi di dalam Shared Space, rasa aman yang palsu itu dicabut paksa. Saat kita memasuki persimpangan tanpa rambu, otak kita langsung menyalakan alarm kewaspadaan tingkat tinggi. Kita merasa terancam, dan karena itu kita otomatis melambatkan kendaraan.

Dan yang paling menakjubkan dari semuanya, kita mulai berinteraksi kembali sebagai sesama manusia, bukan sebagai mesin di balik setir. Karena tidak ada lampu yang bisa diandalkan, kita mencari kontak mata dengan pengendara sepeda. Kita memberi anggukan kecil pada pejalan kaki. Kita melambaikan tangan untuk memberi jalan. Kita bernegosiasi secara langsung di lapangan. Monderman membuktikan secara ilmiah bahwa empati dan komunikasi non-verbal jauh lebih efektif untuk mencegah kecelakaan daripada seonggok lampu merah.

V

Fakta ilmiah ini sebenarnya memberi pelajaran yang sangat dalam tentang peradaban kita. Selama ini kita sering kali pesimis. Kita mudah mengira bahwa manusia pada dasarnya egois, ugal-ugalan, dan akan saling melindas kalau tidak diatur dengan hukuman yang ketat. Kisah dari jalanan tanpa rambu ini mengajarkan hal yang jauh lebih hangat. Saat kita diberi tanggung jawab dan kepercayaan, kita ternyata memiliki insting alami untuk saling menjaga.

Tentu saja, Shared Space bukanlah solusi ajaib untuk jalan tol antarprovinsi yang butuh kecepatan tinggi. Konsep ini bekerja paling baik di area di mana kehidupan sosial, bisnis lokal, dan lalu lintas saling bersinggungan.

Tapi pesan moral dari cerita ini bisa kita bawa ke kehidupan kita sehari-hari. Kadang, solusi dari sebuah konflik atau kekacauan bukanlah dengan menambah sekat pembatas atau membuat aturan baru yang mengekang. Kadang, kita hanya perlu menyingkirkan penghalang yang ada. Kita perlu memberi ruang agar kita bisa saling melihat, memunculkan empati, dan menyadari bahwa pada akhirnya, kita semua sedang berbagi jalan yang sama.